Michaelorstedsatahi’s Blog

August 25, 2011

RESESI DI JEPANG

Sebab Resesi di Jepang

Jepang merupakan negara ketiga di antara perekonomian negara Kelompok 7 alias G7 yang pernah mengalami kemerosotan. Sebelumnya, dua negara lain yang mengalami hal serupa adalah Kanada dan Italia.
Faktor utama penyusutan pertumbuhan ekonomi Jepang adalah:
• melemahnya permintaan domestik.
• rendahnya daya konsumsi masyarakat
• terpuruknya tingkat ekspor
• berkurangnya inventasi swasta dan pemerintahan.
• berkurangnya anggaran belanja konsumen.
• kenaikan harga bahan-bahan mentah yang memegang laba perusahaan.
• penguatan yen juga menjadi faktor lain yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Jepang karena ekspor, produksi, dan penerimaan akan sangat terpengaruh oleh apresiasi mata uang yang substansial akibat semakin berkurangnya praktik carry trade terhadap yen. Praktik carry trade dengan menggunakan yen oleh banyak hedge fund dan investasi jangka pendek lainnya, dianggap telah menolong depresiasi yen terhadap dolar AS dan euro.

Akibat Resesi di Jepang

Kemerosotan perekonomian di Jepang tergambar dalam produk domestik bruto (GDP) dan rendahnya suku bunga. Menteri Keuangan Jepang mengakui, kondisi ekonomi di Jepang sedang melemah akibat lonjakan harga minyak dunia

Akibat resesi di Jepang, diantaranya adalah:

• Warga mengeluh akibat kenaikan harga kebutuhan pokok tanpa diikuti kenaikan gaji.
• Hal itu juga menyebabkan perekonomian Jepang lebih rentan dari pengaruh melemahnya pertumbuhan di AS dan rekanan dagang Jepang lainnya.
• ekonomi Jepang merosot
• Selain itu, angka Produk Domestik Bruto (PDB) juga merosot
• Penurunan tingkat ekspor paling tajam sejak resesi tahun 2001-2002.
• Tingkat impor yang turun

hal ini juga berdampak pada beberapa perusahaan besar di Negeri Sakura. Toyota Motor Corp, misalnya. Produsen mobil terbesar Jepang itu pernah melaporkan adanya penurunan pendapatan terparah dalam lima tahun yang disebabkan merosotnya angka penjualan di A.S. Selain itu, Japan Airlines Corp juga berencana memangkas gaji karyawan karena tingginya beban operasional.

Tidak sampai di situ saja, tingginya harga minyak dan pangan yang sempat menembus angka tertinggi menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat. Daya beli konsumen, yang memberikan kontribusi lebih dari separuh perekonomian, turun. Padahal, pemerintah menargetkan adanya pertumbuhan daya beli masyarakat.

Mandeknya perekonomian dan inflasi gila-gilaan menjadi dilema buat Bank of Jepang (BOJ). Menurut ekonom yang disurvei Bloomberg kemungkinan besar, BOJ akan tetap menahan tingkat suku bunganya pada level tertentu hingga akhir tahun.

Fakta memburuknya kondisi ekonomi tersebut, makin diperparah lagi oleh kondisi perdagangan obligasi jangka panjang Jepang berjangka 10 tahun yang semakin melemah. Hal itu merupakan konsekuensi yang timbul akibat tingkat suku bunga yang trennya cenderung membesar.

Kekhawatiran masyarakat terhadap perekonomian Jepang adalah adanya gelembung ekonomi pada akhir 1980-an yang mengakibatkan terjadinya deflasi. Kondisi ini semakin memperberat perekonomian Jepang.
Intinya, saat ini ekonomi Jepang tengah mandek karena mayoritas uang berada di tangan masyarakat, dalam bentuk tabungan dan deposito. Konsekuensi sikap yang terlalu kapitalistik itu, membuat lapangan kerja di Jepang menjadi semakin sempit dan Jumlah pengangguran pun kian bertambah

Tindakan yang Diambil oleh Pemerintah Jepang

Dengan keadaan seperti itu, pemerintah sibuk mencari jalan keluar mengatasi deflasi tersebut, agar lokomotif ekonomi Jepang kembali berjalan sedikit lebih kencang lagi. Obat yang dianggap paling mujarab mengatasi masalah tersebut adalah dengan memperkenalkan kebijaksanaan moneter.

Kebijakan itu tidak lain adalah yang disebut target inflasi. Perekonomian dibiarkan berinflasi, tetapi inflasi itu sendiri pasti akan dikendalikan. Jadi, inflasi itu tidak dibiarkan bergerak sendiri.
Kebijakan ini menimbulkan dampak yang bermacam-macam. Salah satu dampak tersebut adalah, banyak bank yang harus siap bangkrut.

Pemerintah membiarkan inflasi terjadi. Karena pemerintah memprediksi bahwa tak akan mungkin terjadi mendadak dari deflasi menjadi hiperinflasi. Satu-satunya kemungkinan terjadinya hiperinflasi di Jepang, bila Jepang melakukan perang dan kalah perang. Atau Pemerintah Jepang tak bisa lagi mengumpulkan pajak karena kehancuran sosialnya. Namun, semua itu kan kecil peluangnya untuk terjadi di Jepang ini.

“Berdasarkan UU bank sentral yang ada, mandat kepada BOJ adalah supaya bisa memberikan stabilitas harga. Sejak harga-harga semakin jatuh, maka BOJ harus bisa membuat inflasi positif untuk jangka waktu menengah, guna menstabilkan harga-harga kembali,” kata Adam Posen, peneliti dari Institut Ekonomi Internasional Washington,saat berkunjung ke Tokyo.

“Tetapi apabila komisi kebijaksanaan BOJ tidak melakukan dan tidak menghasilkan kestabilan harga, maka pemimpin BOJ harus bertanggung jawab kepada masyarakat, antara lain dengan mengundurkan diri,” papar Posen lagi. Padahal, dalam posisinya sebagai Bank Sentral, BOJ harus mampu menjaga stabilitas moneter. Artinya, BOJ harus mampu menjaga rasio kecukupan modal seperti halnya institusi keuangan lainnya.

Bagaimana pandangan pemerintah Jepang terhadap pertumbuhan ekonomi China dan India ?

Jepang melihat pesatnya kemajuan perekonomian China dan India sebagai sesuatu yang bersifat positif. Di lain pihak, seiring dengan kemajuan yang dicapainya, China dan India juga diharapkan dapat mengemban tanggung jawab yang lebih besar di kawasan sejalan dengan pengaruhnya terhadap dunia. Melalui kerangka dialog bilateral dengan China dan India, juga ASEAN+3, East Asian Summit (EAS), Jepang ingin mendorong agar China dan India dapat terus memberikan kontribusi yang positif bagi dunia.

Apa saja upaya pemerintah Jepang untuk mempertahankan stabilitas ekonominya?

Untuk menjaga stabilitas ekonomi, ada beberapa masalah yang menjadi perhatian pemerintah Jepang, antara lain pembentukan masyarakat ekonomi yang terbuka dan penuh vitalitas melalui upaya seperti memberi dorongan terhadap pembaruan teknologi serta perundingan EPA dan Doha Round-WTO. Selain itu pemerintah juga melakukan reformasi menyeluruh terhadap pengeluaran belanja tahunan dan pemasukan tahunan menuju pembangunan kembali bidang finansial. Usaha mengatasi masalah masyarakat yang makin “menua” (bertambahnya populasi penduduk berusia tua) dan populasi yang makin berkurang juga tidak luput dari perhatian disamping manajemen finansial secara terpadu oleh pemerintah dan Bank of Japan.

Jepang yakin bisa lolos dari risiko resesi ekonomi

Jepang tidak akan terseret ke dalam resesi ekonomi karena negara itu diyakini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik untuk menahan perlambatan ekonomi di pasar AS.
Daya tahan perekonomian Jepang itu terlihat dari ketergantungan ekspor ke negara Adidaya itu yang cenderung turun.

Penurunan porsi ekspor Jepang ke AS di antaranya dipicu oleh kemampuan sejumlah perusahaan Jepang antara lain Toyota Motor Corp dan Hitachi Construction Machinery Co menangkap peluang pasar di China dan Rusia. “AS tidak lagi menjadi pasar yang sangat dominan seperti sebelumnya. Kondisi Jepang sendiri lebih baik. Negara itu mampu mengubah dirinya setelah melewati dekade [deflasi],” ujar Julian Jessop, kepala ekonom internasional Capital Economics Ltd di London, seperti dikutip Bloomberg.

Perusahaan Jepang juga berhasil menyederhanakan produksi dan menurunkan tingkat utangnya sejak lonjakan harga properti dan saham pada akhir 1980-an. Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley, dua perusahaan pialang terkemuka, membatalkan prediksinya mengenai kemungkinan Negeri Matahari Terbit itu terjebak ke dalam resesi.

Goldman Sachs dan Morgan Stanley mempertimbangkan kenaikan produksi Jepang telah memberi tahu organisasi perdagangan dunia bahwa negeri itu akan membalas tarif impor baja yang dikenakan Amerika atas baja impor. Keputusan Jepang itu dikeluarkan menyusul tindakan serupa yang diambil oleh persatuan Eropa. Kementerian perekonomian, perdagangan dan industri Jepang, atau MITI, mengumumkan tarif impor 100 persen atas baja dan barang-barang baja buatan Amerika. Ini adalah pertama kalinya Jepang melancarkan tindakan pembalasan dalam sengketa perdagangan. Keputusan Jepang itu dikeluarkan setelah perundingan yang diadakan oleh utusan perdagangan Amerika dan menteri perdagangan Jepang tidak berhasil menyelesaikan sengketa dagang itu. Jepang akan memberlakukan tarif impor balasan itu jika Amerika tidak mencabut peraturan tarifnya atau tidak membayar ganti rugi kepada pabrik-pabrik pembuat baja Jepang.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: