Michaelorstedsatahi’s Blog

August 24, 2011

RESESI DI AMERIKA

SEBAB RESESI AMERIKA

Dalam ekonomi makro, resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.

Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse). Kolumnis Sidney J. Harris membedakan istilah-istilah atas dengan cara ini: “sebuah resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.”

Tidak ada yang menyangka bahwa krisis kredit macet perumahan (Subprime Mortgage) di Amerika Serikat (AS) membawa dampak pada perekonomian yang berlanjut sampai sekarang. Pada dasarnya, krisis kredit macet perumahan berawal dari sikap perbankan yang sangat gencar menyalurkan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Namun, saking gencarnya, perbankan tidak lagi memperhatikan kemampuan membayar kembali (repayment) konsumen dalam penyaluran kreditnya. Padahal, sebenarnya banyak konsumen KPR yang tidak layak menerima kredit karena terganjal oleh asas prudensial perbankan, baik menyangkut kemampuan finansial maupun rekam jejak konsumen yang buruk. Perbankan hanya memperhitungkan banyaknya konsumen yang bisa dikucuri kredit, sebab tinggi rendahnya jumlah konsumen dan transaksi menjadi batu loncatan untuk meraup keuntungan di pasar sekuritas. Nantinya-pun, surat perjanjian kredit rumah (hipotek) akan digunakan oleh bank sebagai jaminan untuk menerbitkan dan memperdagangkan sekuritas di pasar sebagai instrumen investasi.

Jumlah penyaluran KPR di AS sangatlah fantastis dan meningkat dari tahun ke tahun. Dari hanya USD 200 miliar pada 2001 menjadi USD 600 miliar pada 2005. Akibatnya, saat terjadi kredit macet secara besar-besaran, perbankan mengalami krisis likuiditas. Sejumlah bank besar merugi karena likuiditas yang berjumlah besar tidak kembali dan investor di pasar sekuriti mengalami kerugian besar dengan jatuhnya harga sekuriti. Sehingga tidak hanya sekitar 6 juta penduduk AS yang terancam kehilangan rumah, tapi juga investor dan perbankan yang sudah pasti mengalami kerugian.

Untuk mengatasi kerugian ini bank menaikkan suku bunga pengembalian kreditnya, hal ini tentunya berpengaruh pada kelompok yang dirugikan sebagai akibat tidak langsung dari perbankan. Kelompok ini ialah masyarakat umum yang membeli barang-barang produksi dari pinjaman uang bank sebagai kelompok ke-3. Kenapa?

Sebabnya ialah karena peminjam uang bank itu terpaksa menaikkan harga unit produksinya sebesar bunga uang yang harus dibayar kepada bank. Sekiranya kenaikan harga itu tidak dilakukan maka pembayaran bunga uang bank tidak mungkin terpenuhi.Akibatnya rakyat umum terpaksa membeli barang-barang lebih mahal, dan hal ini menimbulkan inflasi tak terkendali, juga disebut resesi ekonomi waktu mana biasanya pemerintah melakukan tindakan moneter yang nyatanya merugikam mayoritas penduduk. Tindakan moneter demikian perlu terlaksana agar roda pemerintahan negara berjalan terus.

Tampaknya, fenomena tersebut yang menjadi penyebab resesi ekonomi AS. Namun, tentu tidak menafikan pengeluaran besar-besaran pemerintah AS dalam perang Irak yang memperbesar defisit anggaran sebagai penyebab resesi. Dalam kalkulasi ekonom Stiglitz, perang Irak telah menghabiskan biaya sebesar USD 3 triliun. Angka yang fantastis. Padahal, dana sejumlah ini bisa digunakan untuk menstimulus perekonomian AS, bila sewaktu-waktu mengalami perlambatan ekonomi seperti sekarang.

Perang Irak pula yang menjadi salah satu pemicu melonjaknya harga minyak mentah dunia yang sempat mencapai 100 dolar AS per barel. Lonjakan harga ini telah membawa bencana ekonomi luar biasa bagi perekonomian dunia, khususnya pada negara-negara net importer. Amerika sebagai konsumen minyak bumi terbesar dunia dan dominan, punya bargaining position untuk menentukan harga pasar. Jadi keadaan ekonomi amerika sangat berpengaruh terhadap penentuan harga pasaran minyak dunia.

Resesi ekonomi nampaknya sudah tak terbendung lagi, karena situasi serupa juga dialami negara-negara besar lainnya di Eropa dan Asia.

DAMPAK RESESI DI AMERIKA

Amerika Serikat (AS) ialah negara terbesar ekonominya di dunia. AS juga menghasilkan sekitar 28 persen dari total pendapatan dunia. Ekspor AS diperhitungkan mengambil porsi sekitar 10 persen dari total ekspor dunia, dan impornya sekitar 16 persen dari total impor dunia. Dengan kata lain, jika ekspor-impor AS merosot, maka ekspor-impor dunia pun akan terganggu.AS menguasai lebih dari seperempat daya beli dunia. Jadi ketika daya beli masyarakat AS, yang porsinya 28 persen turun akibat resesi, maka banyak negara lain
akan ikut menanggung dampak resesi yang terjadi dinegara itu.

Adapun negara mitra dagang (ekspor-impor) AS yang paling menonjol ialah Kanada, Meksiko, Jepang, China, Inggeris dan Jerman. Negara-negara mitra utama AS tersebut merupakan negara yang menghasilkan PDB lebih dari seperempat produksi dunia. Artinya, kalau digabung dengan ekonomi AS, maka hampir dua pertiga ekonomi dunia terancam resesiAS. Dilihat secara umum,kondisi perekonomian Amerika Serikat sangat penting bagi banyak perusahaan besar karena Amerika adalah salah satu pasar ekspor terbesar dunia.Melesunya permintaan kemungkinan besar akan mempengaruhi pertumbuhan keuntungan perusahaan, dan mendorong harga saham semakin turun, kata para pengamat pasar. Impor AS berkurang, karena konsumsi masyarakat berkurang. Sehingga pendapatan negara-negara eksportir ke AS, juga akan berkurang. Padahal pendapatan ekspor merupakan salah satu komponen pertumbuhan ekonomi.

Negara selain AS, termasuk Indonesia hanya bisa menghindari atau mengurangi dampak negatif pada perekonomiannya dan sama sekali tidak bisa mengobati resesi tersebut. Bila resesi berkepanjangan niscaya membuat ekonomi dunia ikut resesi.jatuhnya nilai dolar AS akan mengakibatkan lambannya perekonomian yang membuat ekspor negara-negara Eropa turun.

Di sisi lain perekonomian Jepang masih tersokong karena ekspornya ke Cina.
Didalam negaranya sendiri, banyak warga amerika yang menjadi kesulitan membayar cicilan kredit perumahan yang kini naik.Pada saat yang sama, sejumlah bank baik di Amerika maupun di Negara lain menjadi lebih hati-hati dalam memberikan kredit pinjaman karena mereka telah kehilangan miliaran dollar pada investasi yang terkait dengan pasar perumahan dan kredit perumahan.Penurunan yang drastis dialami bursa efek Cina, Filipina, India, Korea Selatan dan Taiwan.Hal ini juga mengakibatkan mahalnya komoditi pangan di sebagian besar negara2 dunia,,Mahalnya harga makanan akan maenyebabkan krisis pangan. Sekitar 6,3 miliar penduduk dunia dihadapkan pada persoalan ketahanan pangan, dari jumlah itu 800 juta orang yang didominasi anak-anak tidak bisa tidur nyenyak karena kurang makan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa resesi yang menimpa AS akan berpengaruh luas terhadap ekonomi dunia.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: