Michaelorstedsatahi’s Blog

August 1, 2011

Dampak Krisis Keuangan Global bagi China

Krisis Global dan Dampaknya terhadap China

Menurut Wen Jiabao, dampak krisis keuangan global terhadap China lebih buruk dari yang diperkirakan. Inilah untuk pertama kalinya pandangan pribadi Wen Jiabao mengenai dampak krisis keuangan terhadap China dikemukakan ke khalayak umum. Pernyataan Jiabao hanya beberapa hari setelah pengumuman paket stimulus keuangan senilai US$ 586 miliar untuk mencegah perlambatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi China masih lebih tinggi dibanding negara lain, tetapi ekspansinya mengendur. Menurut koran milik pemerintah, China Daily seperti dikutip laman BBC Indonesia, Wen memberikan penilaian suramnya ini saat memberi arahan kepada staf pemerintah. Pernyataan suram itu menunjukkan keberuntungan bagi negara dengan tingkat perekonomian keempat terbesar di dunia ini, berubah drastis hanya dalam waktu sangat pendek.

Tingkat pertumbuhan ekonomi China turun menjadi 9,0 persen pada kuartal ketiga di tahun 2008 lalu akibat krisis keuangan global yang mulai terasa dampaknya di negara itu. Pemerintah China menyatakan akan merespons dengan berbagai upaya untuk memberikan stimulus-stimulus baru. Pertumbuhan ekonomi China selalu di atas 10 persen sejak akhir 2005 lalu. Sejak itu, penurunan pertumbuhan ekonomi merupakan yang pertama kali terjadi. Hal itu merupakan indikasi paling kuat bahwa ekonomi China juga ikut terpengaruh memburuknya ekonomi internasional saat ini. Sebagai hasil melambatnya pertumbuhan pada periode Juli sampai September 2010, pertumbuhan ekonomi di China melemah menjadi 9,9 persen sepanjang sembilan bulan pertama di tahun 2010. Angka itu lebih rendah dari 10,4 persen pada enam bulan pertama 2008 dan lebih rendah dari 12,2 persen pada sembilan bulan pertama 2007.

Pada pertemuan disepakati sejumlah langkah pro-pertumbuhan, seperti mendukung pembelian rumah dan pemotongan pajak dalam pembelian rumah untuk tempat tinggal. China juga sepakat menurunkan pajak ekspor untuk memastikan stabilnya pertumbuhan ekspor. Surplus perdagangan China untuk sembilan bulan pertama tahun 2010 mencapai 180,9 miliar dollar AS atau turun 2,6 persen dibandingkan dengan sembilan bulan pertama setahun sebelumnya. Tren melemahnya ekonomi China, menurut Biro Statistik, semakin dikuatkan oleh kecenderungan pada sektor ekonomi yang sangat dipengaruhi ekspor. Pertumbuhan produksi industri tercatat 15,2 persen pada sembilan bulan pertama 2008 atau turun dari 16,3 persen pada enam bulan pertama 2008. Untuk bulan September saja, pertumbuhan produksi industri adalah 11,4 persen. Akibat melambatnya ekspor, China menaruh perhatian pada sumber-sumber pertumbuhan lain, khususnya konsumsi dan investasi domestik.

Seorang eksekutif senior Bank China di Shanghai mengatakan dampak krisis global terhadap China mulai muncul dengan pertumbuhan laba industri dan pendapatan fiskal yang melambat. Perekonomian China sedang berkembang, namun krisis ekonomi global menghalangi laju tersebut. Ditambahkannya, perekonomian China bergantung pada sektor ekspor, dan resesi ekonomi yang melanda berbagai negara akibat krisis ekonomi global membuat volume ekspor Beijing menurun drastis. Gubernur Provinsi Guangdong, yang merupakan tempat kebanyakan pabrik China berlokasi, mengatakan bahwa jumlah pesanan dari luar negeri turun tajam. Banyak pabrik di provinsi itu terpaksa tutup. Sebagai akibatnya banyak pegawai yang menganggur. Kekhawatiran China adalah meningkatnya pengangguran akan menyebabkan goncangan sosial, persis seperti satu dasa warsa lalu ketika pabrik-pabrik milik negara mengalami kebangkrutan.

Kebijakan Pemerintah China dalam Mengatasi Krisis Keuangan Global

Dalam mengatasi akibat krisis global ini, China telah melakukan tindakan cepat untuk mengamankan perekonomian nasionalnya. Yaitu dengan melakukan langkah kebijakan berskala nasional di antaranya adalah :

1. Memperkuat UKM
Usaha Kecil dan Menengah , diperkuat melalui dukungan kemudahan pendanaan dan kepemilikan. Khususnya sektor pertanian, pemerintah China telah melakukan landreform dengan mengeluarkan kebijakan di mana petani boleh memiliki lahan sendiri. Ini kebijakan yang sangat fenomental dibawah rezim komuniss. Di mana sebelumnya hak kepemilikan akan lahan dikuasai oleh negara. Dengan land reform ini maka petani dapat memanfaatkan hartanya untuk berkembang. Di samping sebelumnya pajak hasil pertanian sudah dihapus. Guna mendukung kekuatan petani meningkatkan akses permodalannya maka Beijing pun telah melakukan restrukturisasi Agriculture Bank of China, sebesar USD 19 Billion yang diperkirakan menelan biaya sebesar USD 100 billion. Di mana NPL sector pertanian di ambil alih pemerintah. Diharapkan bank ini akan lebih modern dan flexibale untuk mendukung pertumbuhan sector pertanian.

2. Mempertahankan Pertumbuhan
Guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang terhadang krisis global, maka China mensupplai dana lewat APBN nya untuk membangun infrastruktur agar memungkinkan angkatan kerja terserap dan industri dalam negeri tertolong. Khususnya industri tekhnologi tinggi dan baja. Untuk itu Beijing menyetujui dilaksanakannya proyek berskala raksa pembangunan railway sebesar USD 292 billion atau Rp. 2920 triliun. Di samping itu, pihak Beijing pun mendorong setiap provinsi untuk memacu pembangunan infsrastruktur. Untuk mengamankan daya beli bagi masyarakat kecil ( yang belum punya rumah ) maka kebijakan yang diambil oleh Beijing adalah menurunkan pajak pembelian property sebesar hampir 30% atau turun 1% dari 3-4 %. Menurunkan bunga bank. Menurunkan ketentuan mengenai uang muka pembelian rumah dari 30% menjadi 20%.

3. Melonggarkan Aturan Kredit
4. Lebih Banyak Membangun Prasarana
5. Memotong Pajak

Dengan memperkuat UKM dan mempertahankan pertumbuhan, maka diharapkan laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri sebesar 9% tetap terjaga dan inflasi dapat ditekan. Industri dalam negeri tidak akan mengalami penurunan produksi yang signifikan karena daya beli pasar domestik semakin tinggi akibat suplai dana negara lewat pembangunan infrastruktur ekonomi dan kebijakan kredit kepemilikan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.Yang pasti pasar domestic tetap tumbuh untuk menggantikan pasar eksport yang menyusut. Selain itu, dengan melonggarkan aturan kredit, lebih banyak membangun prasarana, dan memotong pajak, pemerintah China berharap warga mereka akan lebih banyak membelanjakan uang mereka.

Apa yang dapat kita pelajari dari cara China menghadapi krisis global ? Bahwa ketika terjadi krisis maka diantara berbagai pilihan kebijakan, yang dipilih adalah komunitas terbanyak untuk dibela lebih dulu. Karena komunitas ini hampir tidak mungkin mampu bertahan tanpa bantuan penuh dari negara. Itulah sebabnya China, yang petama kali diamankan adalah masyarakat kecil utamanya adalah petani dan buruh yang berpenghasilan rendah. Kedua, adalah mengamankan industri hulu ( baja ) dan industri tekhnologi tinggi. Maklum saja bahwa kedua industi ini sangat vital atau strategis bagi kekuatan industri nasional. Dan tanggung jawab negara lah untuk mengamankannya, sementara yang lainnya dibiarkan dewasa menghadapi krisis global.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: