Michaelorstedsatahi’s Blog

June 22, 2011

SAMPLING UNTUK TES SUBSTANTIF

 

Saat auditor memutuskan bahwa sampling perlu dilakukan dalam tes substantif, tujuannya adalah untuk menguji bahwa jumlah dalam pencatatan klien cukup beralasan. Prosedur audit merupakan suatu bentuk tes hipotesis. Tes hipotesis dilakukan untuk memastikan bahwa ada bukti-bukti yang mendukung pencatatan, perbedaan antara jumlah tercatat dengan jumlah yang sebenarnya tidak terlalu besar sehingga dapat menimbulkan kesalahan pada perkiraan-perkiraan lain yang mengakibatkan salah saji yang material pada laporan keuangan. Hasil sampling akan mengarahkan auditor unruk menerima atau menolak hipotesis yang ada.

 

Penerimaan atau penolakan hipotesis dipengaruhi oleh dua resiko sampling :

  1. Resiko salah penolakan adalah resiko dimana auditor secara keliru menolak hipotesis atas bukti yang mendukung pernyataan saldo perkiraan. Hasil sampling mengarahkan auditor secara keliru untuk meyakini adanya kesalahan dimana saldo perkiraan mengandung salah saji yang melebihi batas yang dapat ditolerir.
  2. Resiko salah penerimaan adalah resiko dimana auditor sacara keliru menerima hipotesis atas bukti yang mendukung pernyataan saldo perkiraan. Hasil sampling mengarahkan auditor secara keliru untuk meyakini bahwa saldo perkiraan tidak mengandung salah saji yang melebihi batas yang dapat ditolerir.

 

Saat sampling digunakan sebagai tes hipotesis, tujuan sampling menjadi berlipat ganda :

  1. Untuk menentukan estimasi saldo perkiraan yang oleh auditor diperkirakan benar menggunakan teknik estimasi sampling.
  2. Untuk menentukan bahwa perbedaan antara estimasi jumlah dan jumlah yang tercatat berada dalam tingkat resiko dimana auditor masih dapat menerima bukti pendukung atas saldo suatu perkiraan.

 

MENDEFINISIKAN POPULASI

 

Dalam mendefinisikan populasi, auditor harus mempertimbangkan kondisi-kondisi berikut ini :

  1. Jika tujuan dari pengujian adalah untuk mendeteksi bagian-bagian yang tidak tercatat (kelengkapan), maka populasi sampling bukanlah dari bagian-bagian yang tercatat pada buku klien.
  2. Perwakilan fisik dari populasi sampling mungkin saja masih belum secara keseluruhan dari populasi yang dimaksud. Jika hal ini benar terjadi, maka perwakilan fisik mungkin saja tidak mewakili populasi sampling.

 

Unit sampling merupakan unsur-unsur yang terpisah dalam populasi dan untuk tujuan sampling dapat terdiri dari hal-hal sebagai berikut :

  1. Sebuah saldo perkiraan
  2. Sebuah transaksi dalam suatu perkiraan
  3. Sebuah dokumen yang membuktikan terjadinya suatu transaksi.

 

TEKNIK-TEKNIK SAMPLING

 

Pada dasarnya ada tiga teknik sampling untuk suatu tes substantif, yaitu :

  1. Teknik sampling nonstatistik (Nonstastistical sampling techniques), dimana hanya mengandalkan perkiraan dalam menentukan ukuran sampel dan mengevaluasi hasil sampling. Jika auditor benar-benar memahami tujuan dari tes substantif dan memiliki pengetahuan yang baik atas karakteristik populasi, suatu sampel nonstatistik mungkin menghasilkan hasil yang dapat diandalkan.
  2. Teknik sampling statistik klasik (Classical statistical sampling techniques) berguna pada saat populasi mengandung banyak perbedaan antara pencatatan dengan jumlah yang telah diaudit. Auditor membutuhkan pemahaman mengenai teori distribusi normal agar metode ini dapat digunakan secara efektif. Auditor memperkirakan faktor-faktor dengan persamaan statistik dan tabel untuk menentukan ukuran sampel dan evaluasi kuantitatif dari hasil sampling.
  3. Teknik sampling statistik yang merupakan kemungkinan proporsional untuk menentukan ukuran sampel. Teknik ini sangat bermanfaat jika populasi mengandung kelebihan saji pada jumlah besar dalam jumlah yang sedikit. Jika populasi mengandung salah saji pada jumlah kecil dalam jumlah besar, sampling statistik klasik atau sampling nonstatistik lebih tepat digunakan.

 

MENENTUKAN UKURAN SAMPEL

 

Faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh auditor dalam menentukan ukuran sampel :

  1. Variasi dari populasi
  2. Tingkat resiko yang dapat diterima oleh auditor
  3. Salah saji yang dapat diterima oleh auditor
  4. Jumlah salah saji yang diperkirakan ada dalam populasi
  5. Ukuran populasi

 

Variasi dari Populasi

Banyak dari populasi akuntansi yang memiliki variabilitas yang tinggi (dispersi). Secara statistik, variabilitas ini diukur menggunakan standar deviasi (simpangan). Secara nonstatistik, hal ini diukur dengan perkiraan menggunakan review atas dispersi atau jangkauan nilai dari unit-unit sampling.

Variasi dari populasi dapat diestimasi dengan mengadakan sampel percontohan atau dengan mengukur variasi dari jumlah-jumlah yang tercatat. Jika auditor tidak memiliki alasan untuk meyakini adanya perbedaan yang signifikan antara jumlah pencatatan dan jumlah yang telah diaudit, maka estimasi variabilitas cukup diukur dari jumlah-jumlah tercatat. Jika digunakan sampling statistik, variabilitas ini diukur dengan menghitung standar deviasi dari jumlah-jumlah yang telah tercatat. Jika menggunakan sampling nonstatistik maka variabilitas dapat juga diukur menggunakan penghitungan standar deviasi dari jumlah-jumlah tercatat atau menggunakan perkiraan.

 

Pertimbangan dalam Menentukan Resiko Salah Penerimaan

Resiko audit adalah resiko dimana kesalahan yang material akan terjadi pada laporan keuangan dan tidak dapat dideteksi oleh pengendalian internal atau oleh auditor. Resiko audit dapat juga digambarkan sebagai resiko terjadinya salah saji yang melebihi batas toleransi dan gagal dideteksi oleh auditor. Resiko audit terdiri dari tiga faktor :

  1. Resiko bawaan, yang merupakan resiko terjadinya salah saji yang melebihi batas yang dapat ditolerir dalam proses akuntansi.
  2. Resiko pengendalian, merupakan resiko terjadinya salah saji yang melebihi batas yang dapat ditolerir dan tidak dapat dicegah atau dideteksi oleh pengendalian internal.
  3. Resiko penemuan (detection risk), merupakan resiko terjadinya salah saji yang melebihi batas yang dapat ditolerir dan tidak dapat dideteksi oleh tes substantif.

 

Hubungan antara ketiga faktor diatas dengan  ukuran sampel dan perencanaan sampling atas resiko salah penerimaan untuk tes substantif :

 

Faktor

Resiko sampling yang direncanakan atas salah penerimaan

Ukuran sampel dari rincian tes substantif

  1. Kerentanan dari saldo perkiraan atau asersi atas terjadinya salah saji
    1. Lebih besar
    2. Lebih kecil
    3. Tingkat resiko pengendalian yang diperkirakan berhubungan dengan  saldo perkiraan atau asersi
      1. Lebih besar
      2. Lebih kecil
      3. Resiko dimana prosedur analitik dan tes substantif lainnya tidak dapat mendeteksi salah saji atas saldo perkiraan atau asersi
        1. Lebih besar
        2. Lebih kecil
 

 

Rendah

Tinggi

 

Rendah

Tinggi

Rendah

Tinggi

 

 

Besar

Kecil

Besar

Kecil

 

 

Besar

Kecil

 

Persamaan untuk model resiko audit :

AR = IR × CR × APR × TD

TD =                       AR                         

IR × CR × APR

Di mana :

AR          =      resiko audit ( audit risk )

IR            =      resiko bawaan ( inherent risk )

CR          =      resiko pengendalian ( control risk )

APR        =      resiko dimana prosedur analitik dan prosedur lainnya yang berkaitan dengan tes substantif tidak dapat mendeteksi suatu salah saji yang melebihi batas toleransi

TD          =      resiko yang diperbolehkan atas salah penerimaan pada rincian tes substantif

 

Jika auditor tidak menginginkan penghitungan resiko secara kuantitatif, auditor dapat menggunakan cara-cara non-kuantitatif berikut ini (dengan asumsi resiko audit berada dalam tingkat rendah) :

  1. Jika suatu perkiraan atau asersi memiliki kerentanan bawaan atas salah saji sedangkan pengendalian internal dan tes substantif lainnya tidak dapat diandalkan, tetapkan resiko salah penerimaan pada tingkat yang sangat rendah.
  2. Jika suatu perkiraan atau asersi memiliki kerentanan bawaan atas salah saji sedangkan pengendalian internal dan tes substantif lainnya cukup dapat diandalkan, tetapkan resiko salah penerimaan pada tingkat sedang.
  3. Jika suatu perkiraan atau asersi tidak memiliki kerentanan bawaan atas salah saji sedangkan pengendalian internal dan tes substantif lainnya sangat dapat diandalkan, tetapkan resiko salah penerimaan pada tingkat tinggi.
  4. Jika suati perkiraan atau asersi memiliki kerantanan bawaan atas salah saji sedangkan pengendalian internal cukup dapat diandalkan dan tes substantif lainnya tidak dapat diandalkan, tetapkan resiko salah penerimaan pada tingkat diantara sedang dan rendah.

 

Pertimbangan dalam Menetapkan Resiko Salah Penolakan

Konsekuensi dari kesalahan penolakan atas suatu saldo perkiraan adalah adanya tambahan biaya audit dan penyesuaian atas kesalahan audit. Kedua konsekuensi tersebut harus menjadi faktor utama dalam memutuskan sesuatu pada tingkat resiko yang tepat.

 

 

 

Toleransi Kesalahan yang Dapat Diterima oleh Auditor

Dalam mengadakan uji pengendalian, auditor perlu memperkirakan tingkat deviasi tertinggi dalam populasi yang dapat ditolerir tanpa mengubah tingkat keandalan yang direncanakan atas pengendalian internal yang diuji. Deviasi ini disebut tingkat toleransi.

 

Salah Saji yang Diperkirakan Ada dalam Populasi

Dalam mengestimasikan jumlah salah saji dalam populasi, auditor dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menggunakan informasi audit tahun sebelumnya.
  2. Auditor dapat mempertimbangkan tipe perkiraan (akun) yang akan diaudit.
  3. Auditor dapat menggunakan pengujian yang sama dengan yang digunakan untuk memperkirakan jumlah salah saji.

 

Jika auditor tidak memiliki alasan untuk memperkirakan adanya salah saji, maka perkiraan salah saji dapat ditetapkan pada titik nol.

 

Ukuran Populasi

Secara umum, untuk populasi yang lebih besar membutuhkan ukuran sampel untuk tes substantif yang lebih besar pula.

 

METODE SELEKSI SAMPEL

Berikut ini adalah cara-cara dalam menyeleksi sampel :

  1. Sampel dapat diseleksi dengan menggunakan perkiraan dalam hal tidak ada hal mencurigakan yang terlihat jelas.
  2. Sampling sistematis, yang untuk kondisi tertentu akan dapat menghasilkan hasil sampling yang dapat diandalkan sebagaimana sampling acak (random sampling).
  3. Sampling acak (random) dimana setiap unit dalam populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk dapat dipilih sebagai sampel.

 

MEMBUAT RENCANA SAMPLING

Setelah menyeleksi sampel, prosedur audit harus diterapkan pada setiap sample. Prosedur audit ini mengabaikan permasalahan bagaimana sample diseleksi atau teknik yang digunakan dalam menyeleksi sample.

Jika satu bagian sampel hilang, misalnya faktur, maka auditor harus memperkirakan dan melaksanakan satu dari dua cara berikut ini :

  1. Jika auditor yakin bahwa evaluasi atas salah saji pada saldo perkiraan tidak akan berubah dengan hilangnya bagian sampel tersebut, maka prosedur alternatif boleh dilewati.
  2. Jika auditor meyakini bahwa evaluasi atas salah saji pada saldo perkiraan akan berubah dengan hilangnya bagian sampel tersebut, maka auditor harus melaksanakan prosedur alternatif.

 

EVALUASI HASIL SAMPEL

Evaluasi Kuantitatif

Jika menggunakan sampling statistik maka sebagian evaluasi akan dilaksanakan dengan menggunakan bantuan tabel dan penghitungan. Jika menggunakan sampling nonstatistik, hanya digunakan perkiraan ahli untuk membuat evaluasi kuantitatif dan kualitatif.

Pertama-tama, nilai yang telah diaudit dibandingkan dengan nilai tercatat dan menyusun data salah saji. Kemudian jumlah salah saji yang ditemukan harus diperhitungkan dengan jumlah populasi.

 

Evaluasi Kualitatif

Sebagai tambahan, untuk memperhitungkan salah saji yang ditemukan dalam sampel dan hasil evaluasi kuantitatif atas sampel, auditor harus melakukan evaluasi kualitatif. Pertimbangan harus diberikan atas sebab dan sifat salah saji dan hubungan dari salah saji tersebut dengan tahap lain dari proses audit. Jika ditemukan banyak salah saji signifikan yang tidak diperkirakan, auditor harus mengulang evaluasi atas penetapan resiko pengendalian dikaitkan dengan saldo perkiraan.

 

ILUSTRASI TES SUBSTABTIF DENGAN SAMPLING NON STATISTIK

 

Rencana Sampling

Tes Audit : Konfirmasi positif dimintakan untuk sampel dari 100 akun.

Tujuan       : untuk memastikan apakah akun tersebut ada dan kepunyaan klien.

Tes 100% ditangani dalam 16 akun dengan saldo tercatat 30.000 atau lebih. Konfirmasi positif dimintakan untuk semua 16 pelanggan tersebut. Tidak ada surat yang dikirimkan ke 15 akun dengan saldo nol karena auditor concern dengan eksistensinya.

Surat konfirmasi dikirim ke 69 akun lebihnya. Teknik pengambilan sampel digunakan untuk memilih sampel dan menilai hasil sampel. Kekeliruan yang diproyeksikan dari populasi 69 akun dihitung dan dikombinasikan dengan kekeliruan lain yang ditemukan pada 16 akun yang diuji dalam basis 100%.

Setelah memikirkan kemungkinan kekeliruan dalam saldo akun lain dan tingkat materialitas untuk Laporan Keuangan, auditor mematok $30.000 sebagai kekeliruan yang ditoleransi untuk Account Receivable.

Terdapat moderate risk  yang kekeliruannya lebih besar daripada jumlah tertoleransi terjadi dan prosedur pengendalian internal serta tes substantif lainnya tidak dapat mendeteksi hal tersebut. Karenanya keputusan auditor untuk menetapkan moderate risk dari kesalahan yang diterima.

Seletah mempertimbangkan seluruh faktor, auditor menggunakan penilaian profesional untuk memutuskan ukuran sampel untuk 23 dari 69 akun. Sistematika sampling digunakan dengan cara acak.

 

Seleksi dari Sampel

Kekeliruan yang diproyeksikan dan diketahui untuk 16 akun adalah $4.720, perbedaan bersih antara jumlah tercatat dan jumlah yang diaudit.

Pemintaan konfirmasi dikirimkan ke 23 dari 69 akun sisa dengan saldo selain nol. Kekeliruan yang mungkin $2.980 di bawah kekeliruan yang dapat diterima $30.000. Karenanya, resiko dari kesalahan aktual dalam populasi melampaui $30.000 rendah.

 

Kualitatif Penilaian Hasil Sampel

Meskipun kekeliruan yang mungkin relatif kecil, auditor mesti memikirkan beberapa faktor kualitatif.

  1. Selain dari 39 akun yang diuji, kekeliruan ditemukan pada 11. Satu alasan untuk kekeliruan yang mungkin relatif rendah adalah efek counterbalance dari overstatement dan understatement. Auditor mungkin mengharapkan investigasi kekeliruan yang besar persentasenya.
  2. Jika tidak ada kekeliruan yang dikoreksi pada buku oleh klien, hal ini mungkin mengindikasikan keengganan untuk mengakui keberadaan kekeliruan dalam populasi.

 

METODE SAMPLING STATISTIKA KLASIK

  1. Estimasi Rata-rata

Pada estimasi rata-rata, sampel rata-rata dari nilai yang diaudit dihitung dengan membagi total nilai yang diaudit dari item sampel dengan jumlah item dalam sampel. Sampel rata-rata dikalikan dengan jumlah item dalam populasi menghasilkan estimasi total jumlah dolar dalam populasi.

Ukuran sampel yang optimal untuk mengestimasikan dollar amount dari populasi dapat ditemukan dengan menggunakan empat item berikut :

  1. estimasi standar deviasi dari populasi
  2. auditor merencanakan tingkatan dari resiko sampling
  3. auditor merencanakan kelonggaran untuk resiko sampling

kelonggaran untuk resiko sampling adalah perbedaan antara kekeliruan yang diduga dengan kekeliruan yang ditoleransi.

  1. jumlah item dalam populasi

Setelah menyeleksi dan memeriksa sampel, langkah berikut digunakan untuk mendapatkan hasil sampel :

  1. Hitung rata-rata sampel dan kalikan dengan jumlah item dalam populasi. Hasilnya adalah perkiraan total dollar amount dari populasi.
  2. Hitung achieved allowance untuk resiko sampling di sekeliling estimasi populasi
  3. Menambahkan atau mengurangi achieved allowance ke/dari perkiraan dollar amount dari populasi. Hasilnya interval achieved allowance di level resiko yang spesifik.
  4. Tentukan jika nilai buku turun dalam interval.
  5. Estimasi Rasio

Estimasi rasio cocok ketika auditoringin memperkirakan nilai populasi berdasarkan rasio jumlah tercatat dan jumlah yang diaudit. Metode ini tidak cocok digunakan bila tidak ada nilai buku untuk item individual.

Estimasi rasio dapat digunakan lebih efektif ketika menghitung jumlah audit yang kurang lebih proposional dengan jumlah dasar.

  1. Estimasi Perbedaan

Tujuan : uuntuk mengestimasikan nilai populasi berdasarkan perbedaan antara nilai buku klien dan nilai yang diaudit. Perbedaan dengan metode rasio adalah auditor menggunakan dollar daripada perbedaan rasio. Estimasi perbedaan juga tidak cocok dengan prosedur dimana tidak terdapat nilai buku untuk item individual.

 

APLIKASI ESTIMASI RATA-RATA

Langkah-Langkah dalam Mengaplikasikan Estimasi Rata-Rata

  1. Tentukan distribusi saldo akun untuk memperkirakan kebutuhan stratifikasi (pengelasan).
  2. Kelompokkan akun jika keadaan yang sering berubah menjadi masalah
  3. Tentukan ukuran sampel yang cukup dengan :
    1. Menentukan resiko kesalahan yang diterima dan kesalahan yang ditolak
    2. Menentukan kekeliruan yang ditoleransi dan kelonggaran yang direncanakan untuk resiko sampel.
    3. Mengestimasi standar deviasi populasi
    4. Mengestimasi kekeliruaan yang diharapkan
    5. Menentukan jumlah item dalam populasi
    6. Menyeleksi sampel dan melaksanakan prosedur audit yang dibutuhkan
    7. Mengevaluasi secara kuantitatif hasil sampel dengan mengestimasi nilai populasi, menghitung achieved allowance untuk resiko sampling dan menerima atau menolak hipotesis bahwa bukti mendukung nilai yang dicatat.
    8. Melaksanakan evaluasi kualitatif dari hasil sampel

 

Estimasi Saldo Piutang

–          Stratifikasi – Solusi untuk variabilitas yang tinggi

Metode Statistical Sampling dapat diaplikasikan kepada distribusi saldo piutang dengan membagi akun menjadi dua atau lebih sub-grup dan memperlakukantiap subgrup sebagai populasi yang terpisah.

 

–          Resiko Audit

TD  =  AR  /  [ IR x CR x APR ]

 

–          Allowance untuk Resiko Sampling

Kekeliruan yang dapat ditoleransi adalah nilai semua Laporan Keuangan yang material dimana dialokasikan ke akun individual.

Allowance yang direncanakan untuk resiko sampling adalah persentase dari kekeliruan yang ditoleransi berdasarkan resiko dari kesalahan yang diterima

 

–          Keputusan untuk menolak atau tidak menolak hipotesis dengan bukti pendukung saldo tercatat

  1. Jika saldo tercatat klien rendah dibandingkan dengan achieved allowance range dan jika achieved allowance lebih kecil daripada allowance yang direncanakan, auditor akan menerima hipotesis dengan bukti pendukung saldo tercatat
  2. Jika kekeliruan yang mungkin ditambah achieved allowance untuk resiko sampling dari kesalahan yang diterima adalah sama atau kurang dari kekeliruan yang ditoleransi, hipotesis dengan bukti pendukung saldo tercatat akan tetap diterima
  3. Jika kekeliruan yang mungkin ditambah achieved allowance untuk resiko sampling dari kesalahan yang diterima adalah lebih besar daripada kekeliruan yang ditoleransi, hipotesis dengan bukti pendukung saldo tercatat akan ditolak.

 

PROBABILITY PROPORTIONAL TO SIZE SAMPLING

PPS lebih efektif untuk menemukan large dollar statement dalam populasi. Untuk alasan ini, PPS sering dipilih ketika populasi dipercaya contain few, jika ada overstatement dollar yang besar. Hal ini tidak perlu mengelompokkan populasi ketika PPS digunakan.

 

Karakteristik PPS

PPS menggunakan setiap dollar pada populasi sebagai bagian unit sampling. Setiap dollar mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih. Hasil prosedur ini pada saldo akun tercatat yang besar dalam populasi mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk dipilih dan diaudit.

PPS dilakukan pada asumsi dimana saldo akun tidak tercatat overstated untuk jumlah tercatat. Untuk menentukan ukuran sampel yang cocok bagi PPS Sampling, berikut adalah item yang digunakan :

  1. Tolerable misstatement
  2. Resiko dari Incorect acceptance
  3. Jumlah dari misstatement anticipated dalam sampel
  4. Recorded book value dari populasi

 

Dalam PPS Sampling, allowance untuk resiko sampling mempunyai dua bagian :

  1. Allowance berdasarkan kekeliruan yang diproyeksikan adri akun lebih kecil daripada interval sampling
  2. ‘ Basic’ allowance

 

Antisipasi Kekeliruan dalam PPS

  1. Estiamsi nilai dari kekeliruan dalam sampel
  2. Multiply test

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: