Michaelorstedsatahi’s Blog

June 16, 2011

PENGENDALIAN INTERNAL


PENGENDALIAN INTERNAL

Pengendalian Internal didefisinikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh Dewan Komisaris, Manajemen, dan orang lain yang ditujukan untuk menyediakan jaminan yang dapat dipertanggungjawabkan tentang objektif hasil dalam kategori sebagai berikut :

  1. Keandalan Laporan Keuangan

Manajemen bertanggung jawab dalam menyiapkan laporan keuangan bagi investor, kreditor, dan pengguna lainnya. Manajemen mempunyai kewajiban hukum dan profesional untuk menjamin bahwa informasi telah disiapkan sesuai dengan standar pelaporan, misalnya PABU

  1. Ketaatan kepada hukum dan peraturan

Banyak sekali hukum dan peraturan yang harus diikuti oleh perusahaan. Beberapa tidak berkaitan langsung dengan akuntansi, seperti: UU Lingkungan Hidup, UU Perburuhan. Yang berkaitan erat dengan akuntansi, contohnya: UU Perpajakan dan UU Perseroan Terbatas

  1. Mendorong efesiensi dan efektifitas operasional

Pengendalian dalam sebuah entitas adalah alat untuk mencegah kegiatan dan pemborosan yang tidak perlu dalam segala aspek usaha dan untuk mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak efektif dan efesien

Pengendalian Internal terdiri dari lima komponen yang saling terkait, yaitu :

  1. Control Environment ( Lingkungan Pengendalian )

Lingkungan Pengendalian terdiri dari tindakan, kebijakan, dan prosedur yang mencerminkan sikap menyeluruh manajemen puncak, direktur dan komisaris, dan pemilik suatu entitas terhadap pengendalian dan pentingnya terhadap satuan usaha tersebut. Komponen yang mendasar mencerminkan tingkah laku dan filosofi yang dianut manajemen. Lingkungan Pengendalian dipengaruhi beberapa faktor :

    1. integritas dan nilai-nilai etika dari klien
    2. komitmen terhadap kompetensi
    3. dewan komisaris/komite audit
    4. filosofi dan gaya bisnis manajemen
    5. struktur organisasi
    6. pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
    7. prosedur dan kebijakan SDM
  1. Risk Assessement ( Perkiraan Risiko)

Penetapan risiko untuk pelaporan keuangan adalah identifikasi dan analisis oleh manajemen atas risiko-risiko yang relevan terhadap penyiapan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Manajemen menetapkan risiko sebagai bagian dari perancangan dan pengoperasian struktur pengendalian internal untuk meminimalkan salah saji dan ketidakberesan. Auditor menetapkan risiko untuk memutuskan bahan bukti yang dibutuhkan dalam audit. Ancaman risiko dapat muncul dari

  • Perubahan dalam lingkungan operasi
  • Personil baru
  • Sistem informasi baru
  • Pertumbuhan yang cepat
  • Teknologi baru
  • Produk dan kegiatan baru
  • Restrukturisasi korporasi
  • Operasi pihak asing

Dalam tambahan untuk mengidentifikasi risiko, manajemen harus merencanakan untuk :

  • Memperkirakan kemungkinan dan arti dari risiko
  • Mengendalikan risiko, menentukan tindakan yang harus diambil
  1. Control Activities ( Kegiatan Pengendalian )

Mencakup jangkauan dari aktivitas seperti; persetujuan, otorisasi, verifikasi, dan rekonsililasi performa menunjukan identifikasi risiko manajemen. Aktivitas tersebut terbagi atas:

–          Indikator performa, seperti: varians harga beli, jumlah hari antara penerimaan pesanan penjualan dan pengiriman barang, pengembalian barang cacat.

–          Proses informasi, seperti: rekonsiliasi pengendalian menyeluruh, menyunting rekening dari data  input.

–          Pengendalian fisik, seperti: membatasi akses ke persediaan, pemeliharaan investasi sekuritas pada safe deposit boxes.

–          Pemisahan tugas, seperti: pemisahan tugas dari otorisasi transaksi, pencatatan transaksi, pemeliharaan harta, pencatatan jumlah aset.

  1. Information and Communication ( Informasi dan Komunikasi )

Mencakup sistem akuntansi yang akan mengidentifikasi, menjabarkan, mengukur, dan mencatat semua transaksi keuangan yang sah. Yang mencakup batasan umum dari informasi adalah:

    1. Keunggulan merk
    2. Market share
    3. Tren/mode pelanggan
    4. Data statistik
    5. Aktivitas perkembangan produk saingan
    6. Peraturan-peraturan
  1. Monitoring ( Pemantauan )

Aktivitas pemantauan berkaitan dengan penilaian efektifitas rancangan dan operasi struktur pengendalian internal secara periodik dan terus menerus. Karena sistem pengendalian internal berubah seiring waktu, pemantauan memastikan bahwa sistem masih bekerja efektif. Kontrol adalah pemantauan internal oleh manajer, internal audit, dan lainnya. Pemantauan eksternal dilakukan oleh pelanggan, vendor, dan regulator.

Fungsi Audit Internal dibuat dalam suatu entitas untuk memantau efektifitas kebijakan dan prosedur lain yang berkaitan dengan pengendalian.

The Level of Understanding

PSAK 23 (SA 319) menghendaki auditor untuk memperoleh pemahaman terhadap struktur pengendalian internal klien dalam setiap audit. Untuk asersi yang relevan dari akun material atau kelas dari transaksi, auditor harus memperoleh pemahaman dari kebijakan dan prosedur pengendalian internal. Untuk setiap asersi  yang relevan, dibutuhkan tingkat pemahaman yang tergantung pada:

  1. kompleksitas dari sistem proses transaksi
  2. pengalaman dari auditor terdahulu
  3. asersi auditor mengenai risiko bawaan
  4. pemahaman auditor dari suatu industri tertentu
  5. penilaian auditor mengenai materialitas

Auditor memerlukan pemahaman dari pengendalian internal untuk perencanaan audit. Luasnya pemahaman paling tidak mencukupi untuk merencanakan pemeriksaan yang memadai, dalam hal empat masalah  spesifik perencanaan.

  1. Auditability
  2. Potensi salah saji yang material
  3. Risiko penemuan
  4. Perancangan pengujian

Procedures to Obtain an Understanding

Tipe Prosedur :

Tugas auditor dalam perolehan pemahaman struktur pengendalian internal adalah menemukan elemen struktur pengendalian internal, melihat apakah telah ditempatkan dalam operasi, mendokumentasikan informasi yang telah diperoleh dengan cara yang baik. Untuk memperoleh pemahaman dari kebijakan dan prosedur yang relevan, auditor mesti:

  1. tanya jawab dengan pegawai klien
  2. inspeksi dokumen dan catatan
  3. pengamatan atas aktivitas dan operasi satuan usaha
  4. mencari informasi dari auditor terdahulu

MENDOKUMENTASIKAN PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERNAL

Pada umumnya internal control perusahaan yang lebih kompleks dan prosedur kinerja yang lebih membutuhkan pendokumentasian lebih luas. Dua bentuk dokumen tradisional yang umum adalah (1) flowchart ( bagan arus ) dengan menyertakan deskripsi naratif dari dokumen, dan (2) Questionnaires.

Flowcharts

Adalah pendeskripsian grafik dari suatu arus informasi dalam suatu sistem

Internal Control Questionnaires

Dalam penambahan untuk memeriksa desain grafik dari beragam sistem dari pengendalian internal, auditor akan bertanya dan mendapt jawaban dari pertanyaan mengenai sistem tersebut. Beberapa jawaban diperoleh dari karyawan perusahaan dan lainnya dari observasi.

Secara tradisional, pengendalian internal kuisioner sangat penting dalam medapatkan pemahaman dari pengendalian internal. Meskipun metode lain seperti bagan arus mempunyai keuntungan luasnya penerimaan, pendekatan kuisioner masih populer pada banyak firma KAP.

STRATEGI AUDIT

Auditor menggunakan bermacam teknik untuk menentukan seberapa besar ketergantungan relatif untuk menempatkan dalam pengendalian dan tes substantif pada penemuan bukti. Auditor mengidentifikasikan kontrol kemudian membuat keputusan bagaimana pengendalian terkait mempengaruhi tes substantif.

Dua alternatif strategi audit mungkin dikembangkan untuk asersi terkait saldo akun yang signifikan atau penggolongan transaksi.

  1. Primarily substantive approach.( Pendekatan Terutama Substantif )

Auditor mengumpulkan hampir semua bukti audit, dan hampir atau sama sekali tidak mempercayai Internal Control. Pada dasarnya ada tiga alasan auditor menggunakan pendekatan ini :

    1. hanya ada sedikit (jika ada) kebijakan dan prosedur pengendalian internal yang relevan dengan perikatan audit atas Laporan Keuangan.
    2. Kebijakan dan prosedur pengendalian internal yang berkaitan dengan asersi untuk akun dan golongan transaksi signifikan tidak efektif.
    3. Peletakan kepercayaan besar terhadap pengujian substantif lebih efisien untuk asersi tertentu.
  1. Lower control risk approach.

Auditor meletakkan kepercayaan moderat atau tingkat kepercayaan penuh terhadap pengendalian internal, akibatnya audit hanya sedikit melaksanakan pengujian substantif.

PERBANDINGAN DARI DUA STRATEGI AUDIT

Comparasion

Primarily Substantive Approach

Lower Control Risk Approach

  1. Asersi dari risiko kontrol
  2. Keluasan prosedur untuk memperoleh pemahaman pengendalian internal
  3. Pengujian dari kontrol
  4. Pengujian substantive
– Tingkat menengah – maksimum

– Sedikit

– Sedikit

– Luas

– Tingkat moderat – rendah

– Lebih luas

– Luas

–      – Terbatas

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: