Michaelorstedsatahi’s Blog

August 24, 2010

akuisisi yang dilakukan carrefour, indikasi monopoli ?

Filed under: ekonomi — Tags: , , , — michaelorstedsatahi @ 4:08 pm

PT Carrefour merupakan perusahaan yang menjadi monopoli karena menikmati skala ekonomi yang membuat biaya rata-rata menjadi tingkat paling minimum. Hal ini akan menghambat perusahaan lain masuk ke dalam industry, karena sangat sukar menyaingi keefisienan perusahaan yang dapat mencapai skala ekonomi. Jika monopoli didasarkan pada pemaksimuman keuntungan, maka akan menimbulkan kerugian yang besar kepada masyarakat. Mereka akan membayar harga yang lebih tinggi untuk barang yang jumlah penawarannya lebih sedikit dari jumlah barang yang dapat diproduksikan secara optimal.

PT Carrefour mungkin dapat menguasai pasar pemasok dan konsumen, karena itu, tidak terdapat kemungkinan bagi perusahaan lain untuk memasuki industry ini, selain itu, PT Carrefour mempunyai modal yang sangat besar.PT Carrefour merupakan penentu harga, sehingga dapat menentukan harga pada tingkat yang dikehendakinya.Selain itu, promosi kurang diperlukan oleh PT Carrefour, oleh sebab itu, PT Carrefour jika membuat iklan hanya untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat.

PT Carrefour melakukan diskriminasi harga, ini terbukti dengan banyaknya Carrefour di seluruh dunia, dan Carrefour juga merupakan perusahaan ritel terbesar kedua di dunia.

Salah satu cabang Carrefour ada di Indonesia, yaitu PT Carrefour Indonesia. Beberapa waktu lalu, PT Carrefour Indonesia melakukan akuisisi terhadap PT. Alfa Retailindo. Setelah akuisisi tersebut, banyak masalah yang terjadi antara PT Carrefour Indonesia dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Mennurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha, PT Carrefour Indonesia tidak hanya menjual komoditi ke konsumen, tapi juga menjual servis ke pemasok berupa biaya awal yang harus dibayar pemasok pada swalayan yang bersedia menjual produk pemasok atau disebut juga listing fee, penyediaan tempat,promosi, dan sebagainya. Yang dibidik Komisi Pengawas Persaingan Usaha sebenarnya segmen pasar dengan pemasok, sedangkan dari sisi pangsa pasar ke konsumen, sampai saat ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha tidak melihat ada masalah.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha mempunyai peraturan yang mengatur tentang posisi dominan. Peraturan ini melarang menggunakan posisi dominan, baik langsung maupun tidak langsung untuk meneta pkan syarat-syarat perdagangan. Dominasi tidak disalahkan kalau seandainya tidak membebani. Monopoli boleh asal tidak jadi beban.Jadi, posisi dominan itu persyaratan perdagangan, apa-apa yang boleh dan tidak boleh.

Dalam kasus ini, PT Carrefour Indonesia melakukan kegiatan yang dilihat Komisi Pengawas Persaingan Usaha bermasalah. PT Carrefour Indonesia menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha membebani para pemasok dan pedagang kecil dengan syarat perdagangan yang tinggi. Hal ini diikuti dengan PT Carrefour Indonesia mendapat untung yang besar, tetapi para pemasok dan para pelaku retail modern yang berhubungan dengan PT Carrefour Indonesia tidak ikut menikmati keuntungan tersebut. Dengan aktivitas seperti itu, dikhawatirkan PT Carrefour Indonesia akan menguasai seluruh pangsa pasar retail modern.

Secara factual, produk PT Carrefour Indonesia beragam. PT Carrefour Indonesia menjual elektronik, bersaing denganAgis, Best Denki, dan Electronic City. PT Carrefour Indonesia juga menjual busana, bersaing denganMatahari dan Ramayana. Baru untuk produk pangan PT Carrefour Indonesia bersaing denganHypermarket dan Giant. Sebenarnya, pesaing PT Carrefour Indonesia tidak terbatas dari segmen hipermarket saja, tapi PT Carrefour Indonesia bersaing dengan multiformat. Tidak ada satu pun retail modern yang mendominasi pasar.Semua berkompetisi di area yang sama dengan target konsumen yang sama.Ini sangat fundamental sekali, mengingat monopoli adalah pasar satu perusahaan. Dengan keadaan seperti itu, seolah-olah Komisi Pengawas Persaingan Usaha berhadapan dengan pasar oligopoly. Pasar oligopoly tersebut menimbulkan monopoli power bagi PT Carrefour Indonesia.

Akan tetapi, melihat banyaknya pesaing PT Carrefour Indonesia seperti diatas, dapat menimbulkan kecurigaan tersendiri. Jika memang PT Carrefour Indonesia tidak melakukan monopoli, maka seharusnya produk PT Carrefour Indonesia dan pesaing-pesaingnya homogen dan tidak dapat menetapkan harga. Disini, PT Carrefour Indonesia jelas dapat mempermainkan harga. Dengan modal yang besar, PT Carrefour Indonesia dapat menarik konsumen dengan permainan harga yang PT Carrefour Indonesia lakukan.

Sedangkan dari hubungan PT Carrefour Indonesia  dengan pemasok, Komisi Pengawas Persaingan Usaha melihat masalah dengan konsep upstream dan downstream. Tapi, ketika timbul pernyataan bahwa Komisi Pengawas Persaingan Usaha menemukan pangsa pasar ritel moderen yang dikuasai perusahaan asal Perancis itu di sisi hulu (penguasaan terhadap pemasok) sudah melampaui 60 persen sedangkan di sisi hilir (antara hipermarket dan supermarket) melampaui 40 persen, PT Carrefour Indonesia mengaku hanya menguasai tujuh persen pangsa pasar ritel di Indonesia. Hal ini agaknya rancu untuk dibuktikan, mengingat kedua badan tersebut merupakan badan yang professional, maka tidak mungkin mengeluarkan pernyataan yang tidak mempunyai dasar dan kredibilitas. Komisi Pengawas Persaingan Usaha menciptakan teori seolah-olah PT Carrefour Indonesia adalah produsen yang menjual jasa kepada pemasok. Dalam hubungan dengan pemasok justru PT Carrefour Indonesia adalah pembeli barang. PT Carrefour Indonesia membeli barang dari pemasok. Yang diributkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha tidak masuk akal. Tidak mungkin 60 persen pemasok penjualannya didapatdari PT Carrefour Indonesia. PT Carrefour Indonesia memiliki sekitar 4.000 pemasok dan 70 persennya adalah usaha kecil menengah. Sedangkan persyaratan dagang (trading term) adalah hasil negosiasi, kontrak jual-beli. Jika PTCarrefour Indonesia menekan, logikanya pemasok akan lari dan mereka punya pilihan untuk menjual ketempat lain.Itu membuat PT Carrefour Indonesia tidak menerima pernyataan Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang menyatakan bahwa PT Carrefour Indonesia menekan para pemasok.

Dari sudut akuisisi, dengan  membeli PT. Alfa Retailindo, PT Carrefour Indonesia dituduh membuat biaya tinggi kepada para pemasok. PT  Carrefour Indonesia sepertinya mengakuisis tidak sekadar mengganti logo,tapi system teknologi informasinyaditambah, dalamnya diubah, dan jumlah barang yang dijual bertambah.Itu yang membuat biaya yang dibebankan lebih besar, agar PT Carrefour Indonesia tidak mengalami kerugian. Akan tetapi, telah kita ketahui bersama bahwa PT. Alfa Retailindo merupakan firma yang cukup besar, sehingga tidak menutup kemungkinan mempunyai pemasok yang banyak. Pasca akuisisi, syarat perdagangan PT. Alfa Retailindo mengikuti PT Carrefour Indonesia r dan dinilai memberatkan pemasok karena semakin besar. Dengan demikian, dengan adanya syarat perdagangan itu, persaingan usaha menjadi tidak sehat. Persaingan usaha yang sehat itu artinya memberi kesempatan yang sama, jangan hanya pemilik modal yang menguasai segala-galanya, seperti PT Carrefour Indonesia yang menekan pemasok dengan syarat perdagangan yang tinggi.

PT Carrefour Indonesia  pernah tersandung kasus yang menekan pemasok juga, yaitu kasus tentang listing fee. Komisi Pengawas Persaingan Usaha pernah melakukan investigasi terhadap kasus antara PT Carrefour Indonesia  dan PT Sariboga Snack. Seperti diketahui, pada akhir tahun 2004 pihak manajemen PT Carrefour Indonesia  diadukan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha oleh pemasoknya karena masalah listing fee (biaya awal yang harus dibayar pemasok pada swalayan yang bersedia menjual produk pemasok). Para pemasok menilai biaya itu terlalu tinggi. Salah satu pemasok tersebut adalah Sariboga, produsen pisang goreng dalam kemasan. PT Carrefour Indonesia  akhirnya memutuskan untuk tidak menempatkan dua produk Sariboga pada displaynya padahal telah membayarkan listing fee.

Masalah PT Carrefour Indonesia  dengan pemasok agaknya terjadi karena PT Carrefour Indonesia  mempunyai modal yang besar. Setelah itu, PT Carrefour Indonesia  mengakuisisi PT. Alfa Retailindo dan menambah pengaruh mereka di pasar retail modern, karena PT. Alfa Retailindo juga mempunyai pengaruh di pasar retail modern. Para pemasok yang berhubungan dengan Alfamart, otomatis menjadi berhubungan dengan PT Carrefour Indonesia  setelah akuisisi tersebut. Pemasok sebelumya, tidak dapat memutuskan perja
njian karena ada kontrak dan juga di zaman sekarang, sangat susah mencari klien seperti PT Carrefour Indonesia  , walaupun PT Carrefour Indonesia   sering memberatkan para pemasok, mereka tidak akan lari dari memasok barang ke PT Carrefour Indonesia.

PT Carrefour Indonesia juga bisa berleha-leha karena jarang ada yang punya modal sebesar PT Carrefour Indonesia . Dengan modal seperti itu, PT Carrefour Indonesia   dapat mengontrol pemasok dan malah membuat pemasok tergantung kepada PT Carrefour Indonesia  . Perusahaan lain tidak dapat menyaingi PT Carrefour Indonesia   dengan modalnya, apalagi dengan sejumlah besar pemasok-pemasok yang melakukan perjanjian dengan PT Carrefour Indonesia  sehingga menyebabkan perusahaan lain  mempunyai hambatan untuk membuat perjanjian dengan pemasok lain, karena para pemasok lain sudah te rikat dan bergantung kepada PT Carrefour Indonesia  .

PT Carrefour Indonesia  juga dapat mempengaruhi harga produk mereka. Hal ini dikarenakan PT Carrefour Indonesia  menekan pemasok, dengan begitu, PT Carrefour Indonesia  mendapat produk dengan harga yang memadai dan kemudian menjualnya ke konsumen dengan harga sesuai kehendak mereka.

Kelakuan PT Carrefour Indonesia  yang menekan pemasok dapat digunakan juga sebagai cara untuk memaksimumkan keuntungan PT Carrefour Indonesia. Dengan asumsi pemasok tetap mengadakan perjanjian dengan mereka, PT Carrefour Indonesia  membebani pemasok dengan syarat penjualan yang tinggi. Belum lagi jika mereka melakukan listing fee, hal itu bisa jadi sebagai pendukung pemaksimuman keuntungan mereka. Seperti pada kasus dengan PT Bogasari Snack, PT Carrefour Indonesia  memutuskan tidak menampilkan produk PT Bogasari Snack pada display PT Carrefour Indonesia , padahal mereka, PT Bogasari Snack telah membayar listing fee. Hal ini tentu merugikan pemasok, sehingga tidak jarang PT Carrefour Indonesia harus berhadapan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha karena pengaduan pemasok yang merasa dirugikan oleh kesewenang-wenangan oleh PT Carrefour Indonesia.

Sayangnya, karena merasa telah melakukan penjualan sesuai prosedur, PT Carrefour Indonesia menolak tuduhan penekanan kepada para pemasok tersebut. Hal ini menimbulkan konflik di antara PT Carrefour Indonesia dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan menimbulkan perkara bagi PT Carrefour Indonesia, karena Komisi Pengawas Persaingan Usaha telah mencium gelagat yang kurang baik dari PT Carrefour Indonesia. Hal ini tercetus karena, menurut data penelitian yang dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, pangsa pasar PT Carrefour Indonesia  untuk sektor ritel dinilai telah melebihi batas yang dianggap wajar, sehingga berpotensi menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat. Selain itu, para pemasok juga melaporkan tentang adanya dugaan PT Carrefour Indonesia  menjual barang secara mahal serta biaya dan syarat perdagangan yang memberatkan. Jadi, selain meningkatnya pangsa pasar PT Carrefour Indonesia  dalam bisnis ritel nasional, akuisisi PT Carrefour Indonesia  terhadap PT. Alfa Retailindo juga mengakibatkan meningkatkan biaya syarat perdagangan yang harus ditanggung pemasoknya. Komisi Pengawas Persaingan Usaha juga telah melakukan dua kajian pangsa pasar PT Carrefour Indonesia  di sektor hulu (dengan pemasoknya) dan sektor hilir (dengan pesaingnya). Komisi Pengawas Persaingan Usaha menemukan bukti awal, pasca akuisisi PT. Alfa Retailindo, pangsa pasar PT Carrefour Indonesia  di sisi hulu naik dari 44,75 persen menjadi 66,73 persen. Sedangkan di sisi hilirnya naik dari 37,98 persen menjadi 48,38 persen.

Pangsa pasar inilah yang jadi dalih bahwa PT Carrefour Indonesia  telah diduga melanggar Pasal 17 ayat 1 dan Pasal 25 ayat 1 huruf a. Pasal 17 tentang larangan melakukan monopoli yaitu menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu, sedangkan pasal 25 tentang penyalahgunaan posisi dominan yang bisa merugikan konsumen dan menghalangi pelaku usaha lain masuk ke pasar serupa. Sampai sejauh ini PT Carrefour Indonesia  membantah tudingan monopoli dan menyebut hanya menguasai kurang dari tujuh persen pangsa pasar dari total ritel Indonesia. Sedangkan terkait masalah syarat perdagangan, PT Carrefour Indonesia  mengaku telah mengacu pada semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia .Menurut PT Carrefour Indonesia  , perjanjian dengan pemasok termasuk syarat perdagangan telah disepakati oleh kedua pihak. Dalam perkara ini, memang terdapat beda pendapat antara Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan PT Carrefour Indonesia.Setidaknya, peritel ini mempermasalahkan beberapa poin ‘kesalahan’ yang dituduhkan kepadanya. Terkait dengan relavan market, menurutnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha mau menelusuri praktik monopoli PT Carrefour Indonesia  dari supermarket dan hipermarket. Padahal, berdasarkan Perpres No.112/2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, pasar modern dikategorikan menjadi lima, antara lain supermarket, hypermarket, department store, minimarket dan pusat perkulakan. Sedangkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha menyoroti monopoli PT Carrefour Indonesia  dari pertarungan sembilan ritel modern, yakni PT. Carrefour Indonesia, Matahari dan Hypermart, Hero dan Giant, PT. Alfa Retailindo, Lion Superindo, Yaohan, Sogo, Metro, Grand Lucky dan Lucky. Menurut Carrefour, terdapat inkonsistensi lembaga persaingan usaha itu. Pasalnya, Sogo dan Metro bukanlah tergolong pada supermarket dan hypermarket, melainkan department store. Peritel yang beromzet Rp10 triliun sepanjang tahun lalu itu memang membenarkan adanya pendapatan lain yang diperolehnya. Pendapatan itu bukanlah berasal dari penjualan, melainkan berasal dari sixth area, misalnya, dari kartu kredit dan kerja sama dengan perusahaan asuransi dan perbankan. Satu yang menjadi permasalahan paling fundamental antara kedua pihak adalah perbedaan pandangan mengenai pangsa pasar. Meski dugaan monopoli terjadi akibat akuisisi PT Carrefour Indonesia  terhadap PT. Alfa Retailindo, namun gerakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha ini memang terkesan ingin menghambat laju Carrefour yang kian ugal-ugalan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha tidak menutup kemungkinan menghentikan pemeriksaan perkara terhadap PT Carrefour Indonesia.

Jika Komisi Pengawas Persaingan Usaha mendapatkan bukti baru dan mempermasalahkan tentang penjualan produk PT Carrefour Indonesia kepada kosumen, Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membujuk pemerintaah dan pemerintah dapat menerapkan pajak lump-sum dan pajak per unit kepada PT Carrefour Indonesia. Pajak lump-sum adalah pajak izin usaha ataupun pajak pajak keuntungan yang dapat digunakan pemerintah untuk dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan keuntungan PT Carrefour Indonesia tanpa mepengaruhi harga komoditi. Sedangkan pajak perunit adalah biaya variable yang dikenakan kepada monopolis, akan tetapi, pajak per unit mempunyai kelemahan, yaitu monopolis dapat mengalihkan beban pajak perunit kepada para konsumen, dalam bentuk harga yang lebih tinggi. Sebenarnya, konsumen akan lebih untung jika monopolis yang mengendalikan harga. Konsumen dapat membeli output yang lebih besar dan harga yang lebih rendah daripada dengan pemerintah mengendalikan monopolis memakai pajak lump-sum dan pajak perunit.

Namun, Komisi Pengawas Persaingan Usaha menyoroti masalah PT Carrefour Indonesia dari segi hubungan dengan pemasok dan proses akuisisi yang dilakukan PT Carrefour Indonesia terhadap PT. Alfa Retailindo. Dalam proses akuisisi sebenarnya semuanya berjalan dengan baik tanpa ada masalah yang cukup berarti. Namun ada beberapa hal menarik yang dapat ditelisik lebih lanjut, yaitu :
1. Keharusan Tender Offer
Dalam Keputusan Ketua Bapepam Nomor 04/PM/2000 (Peraturan Nomor IX.H.1) tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka ditentukan adanya keharusan melakukan tender offer dalam hal melakukan akuisisi saham dari perusahan terbuka, yang ditawarkan oleh pengendali perusahaan terbuka yang baru terhadap seluruh sisa saham yang bersifat ekuitas dari perusahaan yang tersebut, kecuali efek yang dimiliki oleh pemegang saham utama atau pihak pengendali lain dari perusahaan terbuka tersebut, sesuai dengan syarat dan tata cara yang diatur dalam peraturan pasar modal yang khusus mengatur tentang tender offer, yaitu Peraturan Nomor IX.F.1 .

Sehubungan dengan Tender Offer, pengumuman rencana Tender Offer telah diumumkan oleh PT. Carrefour Indonesia dalam dua surat kabar harian, yaitu Bisnis Indonesia dan Investor Daily serta mengajukan Pernyataan Penawaran Tender kepada Ketua Badán Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (”BAPEPAM-LK”) sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan BAPEPAM No. IX.F.1. dan Peraturan BAPEPAM No. IX.F.2.

2. Merugikan kepentingan masyarakat dalam proses pengambilalihan sesuai pasal 106 dalam UU No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas.
Kepentingan masyarakat paska akuisisi yang dilakukan PT. Carrefour terhadap PT. Alfa Retailindo Tbk terkait dengan dugaan monopoli. Pasal 28 ayat (2) UU No 5/1999 mengatur bahwa pengambilalihan saham dilarang apabila mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Namun ketentuan lebih lanjut mengenai pengambilalihan saham yang dilarang sebagaimana Pasal 28 ayat 3 tetap merujuk pada Peraturan Pemerintah, yang sampai sekarang belum ditetapkan. Sehingga belum diketahui parameter larangan tersebut. Hal ini mengakibatkan PT Carrefour Indonesia yang mempunyai hubungan dengan banyak pemasok, dapat melakukan kegiatan ekonominya sesuai keinginan PT Carrefour Indonesia. Kemudian pengawasan yang dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui mekanisme pre merger notification belum diatur atau ditetapkan, sedangkan untuk post merger notification diatur dalam Pasal 29 ayat 2 UU No 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, namun baik mengenai tata caranya maupun mengenai ‘nilai yang melebihi jumlah tertentu masih merujuk pada Peraturan Pemerintah, yang sampai saat ini juga belum ditetapkan.

Bila mengacu pada UU No 5/1999, parameter yang ada adalah parameter mengenai praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat, yaitu penguasaan pangsa pasar melebihi 50%.
Sebagai gambaran riset Nielsen Indonesia bahwa pangsa pasar gabungan PT. Carrefour Indonesia dan PT. Alfa Retailindo hanya mencapai 6,4% untuk pangsa pasar nasional grocery, untuk 54 kategori. Dengan demikian tindakan pengambil alihan ini bukan sesuatu yang melanggar peraturan yang berlaku untuk menjadi dasar pembatalan pengambilalihan tersebut, jika memang riset yang dilakukan oleh Nielsen Indonesia benar. Sayang, Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang punya team peneliti mengungkapkan bahwa pangsa pasar PT. Carrefour Indonesia lebih dari 60 %. Seperti kita ketahui bersama, Komisi Pengawas Persaingan Usaha merupakan badan yang sangat menetang konsep usaha dengan persaingan yang tidak sehat. Oleh kerana itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha sangat bersemangat untuk menghentikan perilaku PT. Carrefour Indonesia yang sudah mulai merambah pasar pemasok.

3. Batasan tentang harus dijual hanya kepada warga negara Indonesia, khusus bagi perusahaan yang bukan merupakan perusahaan penanaman modal asing.
Dalam kasus ini terdapat hal yang menarik mengenai batasan ini, yakni perusahaan penanaman modal asing. Terlebih dahulu ingin disebutkan definisi supermarket menurut Perpres no. 112/2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, supermarket adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran . Dalam Perpres no. 111/2007 tentang revisi daftar negatif investasi (DNI) khususnya huruf f nomor 34 menyatakan, supermarket dengan luas lantai penjualan kurang dari 1.200 m2 harus 100% modal dari dalam negeri.

Dalam akuisisi ini tidak bermasalah karena 29 gerai supermarket yang dimiliki oleh PT. Alfa Retailindo Tbk. mempunyai luas area di atas 1.200m2. Namun dalam Perpres no. 112/2007 khususnya Pasal 3 ayat (2) huruf b mengenai batasan luas lantai penjualan Toko Modern menyebutkan bahwa supermarket mempunyai batasan 400 m2 sampai dengan 5.000 m2. Sehingga telah terjadi kerancuan mengenai batasan luas supermarket di Indonesia antara Perpres No. 111/2007 ataupun Perpres No.112/2007.

Dari pejelasan tersebut, maka hal-hal yang menyebabkan adanya perkara PT Carrefour Indonesia dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha sebenarnya berasal dari kerancuan dan kesalahpahaman salah satu pihak di antara PT Carrefour Indonesia dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam hal proses akuisisi, padahal :

1. Proses akuisisi yang dilakukan oleh PT. Carrefour Indonesia terhadap PT. Alfa Retailindo telah berjalan dan sesuai dengan UU. No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, khususnya pasal 125.

2. Pelanggaran terhadap kepentingan masyarakat seperti yang tercantum dalam pasal 126 tidak menyiratkan indikasi yang sesuai, karena sesuai dengan riset yang dilakukan oleh AC Nielsen Indonesia, pangsa pasar gabungan Carrefour dan Alfa hanya mencapai 6,4% untuk pangsa pasar nasional grocery, untuk 54 kategori.

3. Dalam hal kaitannya dengan penanaman modal asing tidak dapat dipastikan bahwa akuisisi PT. Carrefour Indonesia terhadap PT. Alfa Retailindo Tbk. melanggar Ketentuan huruf f Perpres No. 111/2007 tentang revisi daftar negatif investasi (DNI) atau Perpres No. 112/2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern karena batasan mengenai luas area supermarket tidak jelas.

Hal ini sangat disayangkan, padahal kedua badan diatas merupakan badan professional yang notabene melakukan kegiatan untuk kepentingan rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat.

Terlebih soal Komisi Pengawas Persaingan Usaha, terlihat jelas bahwa  Komisi Pengawas Persaingan Usaha baru menyelidiki proses setelah akuisisi. Mengingat jika memang benar proses kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha adalah setelah proses akuisisi selesai Komisi Pengawas Persaingan Usaha baru memeriksanya, bukan sebelum proses akuisisinya, maka disini ada hal yang sangat diluar logika dan kebiasaan. Jika menurut hasil Komisi Pengawas Persaingan Usaha dinyatakan tidak layak (dianggap monopoli atau hal-hal lain yang dianggap sebagai persaingan yang tidak sehat ) maka akuisisi ini bisa dibatalkan dan kembali ke bentuk firma masing-masing. Hal ini justru membuat sejenis keanehan dan dapat merugikan kedua pihak yang telah melakukan akuisisi. Komisi Pengawas Persaingan Usaha tidak memproses dari awal, tetapi malah ketika semua gerai PT. Alfa Retailindo sudah berubah jadi PT. Carrefour Indonesia, baru dipermasalahkan.

Tugas Komisi Pengawas Persaingan Usaha sepertinya berat untuk bisa berlaku adil dalam memberantas praktik monopoli yang merugikan konsumen tidak tebang pilih, karena pada kasus yang telah berlalu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha di minta oleh Kelompok Pengusaha taksi di Surabaya untuk meninjau ulang sistem transportasi kendaraan Taxi Airport yang dimonopoli oleh Taxi Prima di bandara Internasional Juanda Surabaya, karena taxi non airport dilarang mengambil penumpang. Dan yang dirugikan juga adalah konsumen karena tarif taxi yang tinggi dan tidak banyak pilihan. Hal ini berbeda seperti di Bandara Internasional Sukarno Hatta Jakarta yang membebaskan semua taxi untuk mengambil penumpang dari bandara.
Praktek monopoli lainnya yang sampai saat ini masih berjalan adalah dalam tayangan layar lebar bioskop.
Setelah enam tahun lalu lolos, jaringan bioskop 21 Cineplex kembali dihadapkan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha atas dugaan monopoli dan persaiangan usaha tidak sehat. Komisi Pengawas Persaingan Usaha saat ini mempertimbangkan untuk memanggil pihak terlapor.

Tuduhan yang dialamatkan antara lain, dugaan pelanggaran pasal 25 ayat 1 butir (c) mengenai posisi dominan, pasal 19 butir (a), (c) dan (d) mengenai penguasaan pasar, pasal 17 ayat (1) tentang monopoli, pasal 18 ayat (1) tentang monopsoni, pasal 24 tentang persekongkolan, pasal 15 ayat 1 mengenai pernjanjian tertutup, pasal 26 mengenai jabatan rangkap dan pasal 27 mengenai kepemilikan saham. Jaringan bioskop tersebut menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar. Setali tiga uang dengan kasus PT. Carrefour Indonesia, yang menurut KPPU menguasai pangsa pasar lebih dari 60 persen, menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya KPPU yang tidak adil dalam menentukan apakah PT. Carrefour Indonesia yang bersalah dalam dugaan melakukan persaingan usaha yang tidak sehat, atau PT. Carrefour Indonesia yang memang membandel dalam kegiatannya yang berhubungan dengan pemasok. Dapat juga terjadi bahwa kedua pihak tersebut sama-sama melakukan kesalahan, tapi tidak mau mengakuinya.

Sebenarnya, banyak kabar yang beredar bahwa yang sudah pernah merasakan berurusan dengan PT. Carrefour Indonesia sudah mengalami banyak kesimpangsiuran dalam menyelesaikan urusan mereka. Hal  ini disebabkan karna PT. Carrefour Indonesia memberlakukan banyak biaya yang kurang jelas dialokasikan kemana dan untuk apa. Oleh karna itu, para pemasok atau pihak yang berurusan dengan PT. Carrefour Indonesia sudah me mark up harga dengan gila-gilaan agar semua biaya tertutup, terutama biaya total dan biaya berubah. Jika para pemasok tidak dapat menutup biaya rata-rata, hal tersebut masih dapat tertolong oleh harga barang dan hasil penjualan. Tetapi jika para pemasok tidak dapat menutup biaya berubah rat-rata dengan hasil penjualan pasokan barang ke PT. Carrefour Indonesia, maka pemasok akan merugi. Lain halnya dengan produk baru yang belum terkenal dan belum dapat melakukan promosi dengan iklan yang besar, maka dengan image PT. Carrefour Indonesia yang terkenal dan memegang peranan dalam pasar retail modern, masuknya produk baru tersebut ke display PT. Carrefour Indonesia dapat menaikkan reputasi produk baru tersebut. Jika dirunut  dari dasarnya, dapat dikatakan pemerintah melakukan keputusan yang bagai buah simalakama. Pemerintah mengeluarkan izin bagi Carrefour untuk membuat PT. Carrefour Indonesia, di Indonesia, tapi hal ini mengakibatkan pasar tradisional makin lesu karena tidak dapat mengimbangi kekuatan modal dari PT. Carrefour Indonesia.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: